Monday, May 20, 2013

AYAH, DIMANA HATIMU !! (3)


Sambungan dari (cerbung Ayah, Dimana Hatimu !!)
Seminggu kemudian…
Sore itu Bunda menyuruhku bersiap-siap mengemas baju dan semua kebutuhan untuk di Pondok. Ya, besok pagi Aku akan diberangkatkan ke Pondok di daerah Cianjur, kata Ayah, Aku tidak boleh berlama-lama di rumah. Tapi harus secepat inikah ??!!
Bagaimanapun Aku harus mau…
Di dapur, Bunda sedang menyiapkan makanan untuk dibawa besok, Aku tertunduk lesu saat harus memasukkan satu persatu baju-bajuku ke dalam tas, sesekali air mataku menetes.
            “Sudah jangan bengong begitu,”ucap Bunda tiba-tiba…
Aku menoleh tanpa gairah…
            “Bunda dalam beberapa waktu Aku akan jauh darimu,”kataku dalam hati, tiba-tiba terus saja air mataku mengalir deras, Bunda tersenyum sambil menhapus air mataku,”nanti setelah pulang dari pondok, kamu bisa ajari Bundamu ini mengaji, soal mengaji Bunda kan bodoh,”canda Bunda.
            “Ah, Bunda,”sambil mencoba tersenyum.
Bunda memegang tanganku, kulihat matanya berkaca-kaca…
            “Bunda, Bunda sedih nggak, bakal pisah jauh sama Aku?”
Bunda menatapku, lalu memelukku…
Inilah saat terindah yang aku rasakan bersama Bunda, sore itu pelukannya terasa sangat hangat dan mendamaikan hatiku yang sedang galau dan luluhlantak.Air mata ini terus mengalir, jujur, Aku enggan dan berat berpisah dengan Bunda dan adik-adikku juga keluargaku. Tapi, harus aku ingat, ini hanya sementara, mau tidak mau, Aku harus mau…
***
Hari esok tiba lebih cepat dari biasanya atau mungkin itu hanya perasaanku saja.Pagi-pagi sekitar pukul 04.30, Aku bangun, kubantu Bunda untuk menyiapkan semuanya.
            “Fira, sekarang sudah jam 06.00, sebentar lagi kita berangkat.Sekarang kamu ganti baju sana, bajunya sudah Bunda siapkan di kamar kamu”kata Bunda.
Akupun berjalan kea rah kamar, Aku tidak segera mengganti pakaianku, Aku duduk di atas kasur sambil menatap baju yang disiapkan Bunda, rok berwarna hitam, baju nlengan panjang berwarna putih dan kerudung tsunami panjang.
            “Fira, cepat pakai jangan dilihatin terus dong”,ucap Bunda.
            “Iya, Bun,”ucapku sambil melepas baju yang kupakai dan menggantinya dengan pakaian yang Bunda siapkan. Lamaaa…Aku berdiri di depan cermin. Aku geli juga melihat gambar bayangan di cermin itu.Aku yang terkenal tomboy, cuek, dan ceroboh ketika di sekolah karena saking cueknya dalam berpenampilan. Sekarang mengenakan busana muslim yang siapapun melihatnya akan mengatakan manis.
Aku tertawa sendiri…
            “Cantik,”puji Bunda dan adik-adikku.
Aku menoleh dan tersenyum…
            “Bukan cantik, tapi aneh, Bun,”ucapku.
Sekitar pukul 07.30, kami akan berangkat, Aku belum mau masuk ke dalam mobil, Ayah menghampiriku...
            “Safira, Ayah nggak bisa nganterin kamu, disana Ayah pesan jangan nakal, ya !pulang-pulang bawa ilmu yang bermanfaat,”ucap Ayah sambil membelai kepalaku, Aku menangis…sungguh  baru kali ini tangan ayah menyentuh lembut kepalaku. Bunda mengajakku masuk ke dalam mobil, disana sudah ada Ibu tiriku (Isteri pertama Ayah), kakak juga adik tiriku, setelah memeriksa semua dan semua selesai kamipun berangkat. Mobil melaju dengan cepat, Aku sama sekali tidak bisa tersenyum. Sepanjang perjalanan beribu pertanyaan menghantui pikirank.”Aku ingin sekolah bukan mondok.”kataku dalam hati
Akhirnya kami sampai di tempat tujuan, Cianjur pedalaman yang saangaaatt…jauh kemana-mana.Aku berjalan mengikuti orang tuaku, tiba di sebuah rumah kami mengetuk pintu.
            “Assalamualaikum.”
Kuperhatikan sekelilingnya, pagar-pagar besar dan juga tembok mengelilingi seluruh pondok pesantren itu. Sebuah gembok tergantung di pagarnya…
Pintu rumah itu terbuka, kamipun masuk setelah beberapa saat menunggu, seorang Ibu-ibu berumur kira-kira setengah baya menghampiri kami, kamipun menyalaminya.Ibu tiriku atau yang biasa Aku panggil “Umi” memperkenalkan Aku kepada Ibu-ibu tadi.Ternyata ibu-ibu itu adalah Ibu Kepala di pondok itu atau santri-santrinya biasa memanggilnya “Bibi”.
Setelah berbicara panjang lebar, bla…bla…bla…ini itu, akhirnya Aku diantar seorang santri untuk membawa barang-barangku ke kamar santri atau di Pondok Pesantren biasa disebut “Kobong”. Begitu Aku memasuki kamar yang akan Aku tempati, kulihat para teteh-teteh sedang menhafal kita, entah apa kitab yang dipegangnya, aku belum tahu. Aku dipersilahkan duduk, mereka cukup ramah.Setelah berkenalan dan berbincang-bincang sebentar, Aku keluar kembali menemui Bundaku.
            Setelah semua selesai, kini saatnya keluargaku meninggalkan Aku sendiri disini.Sedih, sangat Aku rasakan.Satu persatu keluargaku memelukku, air mataku mengalir saat mereka pamit dan menghilang dari pandanganku.
            Aku kembali ke kamarku tepatnya ke Kobong Bogor. Ya, sesuai namanya kamar itu khusus untuk orang Bogor, di samping kanan kobong bogor ada Kobong Sukabumi, di samping kirinya Kobong Garut, di depannya Kobong Cianjur, dan tengah Cipanas. Diruangan atas ada mushola tempat shalat berjamaah, disekelilingnya rumah guru-guru yang mengajar mengaji.
            “Teh, kalau mau shalat dzuhur ambil wudhunya dimana, ya?” tanyaku pada seseorang, lalu seseorang itupun mengantarkan Aku ke tempat wudhu. Setelah itu,
Aku shalat dzuhur.
***
Bersambung...

No comments:

Post a Comment