Sambungan dari (cerbung Ayah, Dimana Hatimu !!)
Seminggu
kemudian…
Sore
itu Bunda menyuruhku bersiap-siap mengemas baju dan semua kebutuhan untuk di
Pondok. Ya, besok pagi Aku akan diberangkatkan ke Pondok di daerah Cianjur,
kata Ayah, Aku tidak boleh berlama-lama di rumah. Tapi harus secepat inikah
??!!
Bagaimanapun
Aku harus mau…
Di
dapur, Bunda sedang menyiapkan makanan untuk dibawa besok, Aku tertunduk lesu
saat harus memasukkan satu persatu baju-bajuku ke dalam tas, sesekali air
mataku menetes.
“Sudah jangan bengong begitu,”ucap
Bunda tiba-tiba…
Aku
menoleh tanpa gairah…
“Bunda dalam beberapa waktu Aku akan
jauh darimu,”kataku dalam hati, tiba-tiba terus saja air mataku mengalir deras,
Bunda tersenyum sambil menhapus air mataku,”nanti setelah pulang dari pondok,
kamu bisa ajari Bundamu ini mengaji, soal mengaji Bunda kan bodoh,”canda Bunda.
“Ah, Bunda,”sambil mencoba
tersenyum.
Bunda
memegang tanganku, kulihat matanya berkaca-kaca…
“Bunda, Bunda sedih nggak, bakal
pisah jauh sama Aku?”
Bunda
menatapku, lalu memelukku…
Inilah
saat terindah yang aku rasakan bersama Bunda, sore itu pelukannya terasa sangat
hangat dan mendamaikan hatiku yang sedang galau dan luluhlantak.Air mata ini
terus mengalir, jujur, Aku enggan dan berat berpisah dengan Bunda dan
adik-adikku juga keluargaku. Tapi, harus aku ingat, ini hanya sementara, mau
tidak mau, Aku harus mau…
***
Hari
esok tiba lebih cepat dari biasanya atau mungkin itu hanya perasaanku
saja.Pagi-pagi sekitar pukul 04.30, Aku bangun, kubantu Bunda untuk menyiapkan
semuanya.
“Fira, sekarang sudah jam 06.00,
sebentar lagi kita berangkat.Sekarang kamu ganti baju sana, bajunya sudah Bunda
siapkan di kamar kamu”kata Bunda.
Akupun
berjalan kea rah kamar, Aku tidak segera mengganti pakaianku, Aku duduk di atas
kasur sambil menatap baju yang disiapkan Bunda, rok berwarna hitam, baju
nlengan panjang berwarna putih dan kerudung tsunami panjang.
“Fira, cepat pakai jangan dilihatin
terus dong”,ucap Bunda.
“Iya, Bun,”ucapku sambil melepas
baju yang kupakai dan menggantinya dengan pakaian yang Bunda siapkan.
Lamaaa…Aku berdiri di depan cermin. Aku geli juga melihat gambar bayangan di
cermin itu.Aku yang terkenal tomboy, cuek, dan ceroboh ketika di sekolah karena
saking cueknya dalam berpenampilan. Sekarang mengenakan busana muslim yang
siapapun melihatnya akan mengatakan manis.
Aku
tertawa sendiri…
“Cantik,”puji Bunda dan adik-adikku.
Aku
menoleh dan tersenyum…
“Bukan cantik, tapi aneh, Bun,”ucapku.
Sekitar
pukul 07.30, kami akan berangkat, Aku belum mau masuk ke dalam mobil, Ayah
menghampiriku...
“Safira, Ayah nggak bisa nganterin
kamu, disana Ayah pesan jangan nakal, ya !pulang-pulang bawa ilmu yang
bermanfaat,”ucap Ayah sambil membelai kepalaku, Aku menangis…sungguh baru kali ini tangan ayah menyentuh lembut
kepalaku. Bunda mengajakku masuk ke dalam mobil, disana sudah ada Ibu tiriku
(Isteri pertama Ayah), kakak juga adik tiriku, setelah memeriksa semua dan
semua selesai kamipun berangkat. Mobil melaju dengan cepat, Aku sama sekali
tidak bisa tersenyum. Sepanjang perjalanan beribu pertanyaan menghantui
pikirank.”Aku ingin sekolah bukan mondok.”kataku dalam hati
Akhirnya
kami sampai di tempat tujuan, Cianjur pedalaman yang saangaaatt…jauh
kemana-mana.Aku berjalan mengikuti orang tuaku, tiba di sebuah rumah kami
mengetuk pintu.
“Assalamualaikum.”
Kuperhatikan
sekelilingnya, pagar-pagar besar dan juga tembok mengelilingi seluruh pondok
pesantren itu. Sebuah gembok tergantung di pagarnya…
Pintu
rumah itu terbuka, kamipun masuk setelah beberapa saat menunggu, seorang
Ibu-ibu berumur kira-kira setengah baya menghampiri kami, kamipun
menyalaminya.Ibu tiriku atau yang biasa Aku panggil “Umi” memperkenalkan Aku
kepada Ibu-ibu tadi.Ternyata ibu-ibu itu adalah Ibu Kepala di pondok itu atau
santri-santrinya biasa memanggilnya “Bibi”.
Setelah
berbicara panjang lebar, bla…bla…bla…ini itu, akhirnya Aku diantar seorang
santri untuk membawa barang-barangku ke kamar santri atau di Pondok Pesantren
biasa disebut “Kobong”. Begitu Aku memasuki kamar yang akan Aku tempati,
kulihat para teteh-teteh sedang menhafal kita, entah apa kitab yang
dipegangnya, aku belum tahu. Aku dipersilahkan duduk, mereka cukup
ramah.Setelah berkenalan dan berbincang-bincang sebentar, Aku keluar kembali
menemui Bundaku.
Setelah semua selesai, kini saatnya
keluargaku meninggalkan Aku sendiri disini.Sedih, sangat Aku rasakan.Satu
persatu keluargaku memelukku, air mataku mengalir saat mereka pamit dan
menghilang dari pandanganku.
Aku kembali ke kamarku tepatnya ke
Kobong Bogor. Ya, sesuai namanya kamar itu khusus untuk orang Bogor, di samping
kanan kobong bogor ada Kobong Sukabumi, di samping kirinya Kobong Garut, di
depannya Kobong Cianjur, dan tengah Cipanas. Diruangan atas ada mushola tempat
shalat berjamaah, disekelilingnya rumah guru-guru yang mengajar mengaji.
“Teh, kalau mau shalat dzuhur ambil
wudhunya dimana, ya?” tanyaku pada seseorang, lalu seseorang itupun
mengantarkan Aku ke tempat wudhu. Setelah itu,
Aku
shalat dzuhur.
***
Bersambung...
No comments:
Post a Comment