Thursday, May 23, 2013

Cara Setting IP (Internet Protocol) dan Tes Jaringan

Sudah lama sekali saya tidak posting di blog ini. Rindu sekali rasanya..hehe :) .Nah, kawan..kali ini saya akan berbagi ilmu yang sudah saya dapatkan :) . Posting kali ini tentang tes jaringan dan tahapan-tahapan setting IP. Cara dan tahapan-tahapan dibawah ini sangat mudah untuk dipraktikan di komputer maupun dilaptop Anda. Semoga bermanfaat.

Tahapan Settting IP(Internet Protocol)
-> control panel
-> pilih network and sharing center
-> pilih change adapter setting
-> pilih dan klik kanan pada local area connection -> pilih properties
   .) pada connection uses the following item, pilih
      -> internet protocol version 4 (TCP/IPV4)
      -> klik tombol properties
   .) lalu pilih use the following IP address, lalu masukkan
      IP address contohnya : IP address : 192.168.1.1
                                          subnet masuk : 255.255.255.0
   .) lalu klik ok & close

Untuk Tes Jaringan :
1. klik tombol start
2. ketik cmd
3. lalu pada tampilan command prompt ketikkan (misal) ping 192.168.1.2
   enter <-

Untuk Sharing Data Di Komputer 1
-> masuk windows exploler
-> klik kanan pada drive atau folder yang akan di sharing
-> pilih share with, advanced sharing,
   - pilih advance sharing,
   - beri tanda cek list pada kotak share this folder
   - ok

Di Komputer 2
-> masuk windows exploler
-> pada bagian atas(kolom search), ketikan alamat IP komputer 1, misal \\192.168.1.1

Wednesday, May 22, 2013

AYAH, DIMANA HATIMU !! (4)


   Penggalan terakhir (cerbung Ayah, Dimana Hatimu !!)       
           Tidak terasa hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun.Dan sudah 1 tahun Aku belajar di Pondok Pesantren ini.
            Siang ini, tidak seperti biasanya Aku sangat-sangat merindukan Bunda, Aku sangat ingin bertemu dengannya.Sebenarnya Aku memang sering meminta pulang tapi Bibi tidak pernah memberikan izin.Namun kali ini Aku benar-benar ingin bertemu Bunda. Entah apa yang sedang terjadi disana dengan Bunda. Perasaanku gelisah, bayang-bayang Bunda tiba-tiba saja memenuhi pikiranku.Tanpa Aku sadari, Bibi sudah ada di sampingku.Dia mengajakku ke rumahnya.Dia bilang ada kakak tiriku yang menjemputku.Bukan main senangnya. Namun ketika di perjalanan pulang kakak tiriku tidak bersuara sama sekali. “Aneh, tidak seperti biasanya, ini bukan sifat dia,”batinku dalam hati. Lalu, Aku tanya mengapa dia menejmputku. Dia hanya menjawab,”kamu akan tahu setelah sampai rumah.”tentu saja jawaban itu sangat membuatku penasaran dan bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya sedang disembunyikannya, apa yang sebenarnya sedang terjadi di rumahku.
            1,5 jam kemudian mobil yang Aku tumpangi akhirnya sampai di gerbang depan rumah dan DEG…betapa kagetnya Aku ketika melihat bendera kuning berkibar di gerbang depan rumahku. Pikiranku sudah kacau. Aku berharap, apa yang Aku pikirkan ini tidak benar. Aku turun perlahan, kakak tiriku memapahku masuk ke dalam.Aku melihat adik-adikku menangis histeris.Aku mencoba melihat siapa yang mereka tangisi. Ternyata mereka menangisi sesosok tubuh yang sudah membujur kaku dengan dibalut kain kafan , yang tak lain sosok itu adalah Bunda. Aku tak kuasa melihatnya, dunia seakan hancur, seketika tubuhku lemas, air mataku semakin deras mengalir dan tanpa sadar Aku mengguncang-guncang tubuh Bunda yang kini sudah tidak bisa tersenyum dan memeluk tubuhku.
            “Bun, bangun Bun, ini Fira!!!Sekarang Fira sudah pandai mengaji.Bunda bilang kalau Fira sudah pandai mengaji, Bunda ingin Fira ajari.Nah, sekarang Fira sudah pandai mengaji, Bun.Bundaaaa…banguuunn.”teriakku histeris disela isak tangisku yang semakin menjadi-jadi.
Kupeluk ketiga adikku.Kucoba menenangkan si Bungsu yang terus menangis memanggil bunda.Nenek memeluk kami berempat.Ayahpun mencoba menenangkan kami.
            “sudah-sudah, jangan menangis lagi, kasihan Bunda kalian jika kalian menangis terus.”ucap Ayah
            “yang sabar dan tabah cucu-cucuku, ikhlaskan Bunda,”sahut nenek
            “tapi ma, kenapa secepat ini Allah mengambil bunda. Emang bunda sakit apa, ma?”tanyaku mencoba mengikhlaskan semua kenyataan pahit ini.
            “mungkin ini sudah takdir sayang, bundamu itu ditemukan sudah dalam keadaan mengambang di kolam milik ayahmu.”jawab nenek sambil memeluk kami lebih erat.
        “ayo sekarang kita ke pemakaman untuk mengantarkan bunda kalian ke peristirahatan terakhirnya.”kata nenek lagi
            Setelah proses pemakaman bunda selesai, dengan langkah yang berat aku dan ketiga adikku harus pulang meninggalkan bunda sendiri disana. Di dalam tanah yang begitu pengap, sempit, dan gelap. Namun apalah daya, aku harus tetap mengikhlaskan dan meninggalkannya, mau tidak mau….
Setelah bunda meninggal aku dan ketiga adikku tinggal di rumah ibu tiri. Namun itu tidak bertahan lama karena ibu tiriku tidak suka dengan kehadiran kami berempat dan atas bujukannya, entah apa yang dibicarakannya, ayah seperti membenci aku dan adikk-adikku dan akhirnya dia menyuruh kepada orang tua bunda yaitu kakek dan nenek untuk membawa kami berempat pergi dari rumahnya. Dan ayah berpesan agar jangan membawa kami ke hadapannya lagi.
Setelah mendengar penuturan ayah tadi, aku begitu terpukul.Dan saat itu juga aku sangat-sangat membenci ayah.Aku dan adik-adikku pun akhirnya hanya bisa pasrah melihat ayah yang selama ini kami hormati membuang kami begitu saja. Entah apa kesalahan yang pernah kami perbuat hingga dia setega itu. Sejak saat itu aku dan ketiga adikku tinggal bersama kakek dan nenek. Dan sejak saat itu pula, aku dan ketiga adikku bersumpah akan membuktikan kepada ayah bahwa kami bisa berhasil dan sukses tanpa dia, dengan cara kami sendiri.

****
selesai... :)

Monday, May 20, 2013

AYAH, DIMANA HATIMU !! (3)


Sambungan dari (cerbung Ayah, Dimana Hatimu !!)
Seminggu kemudian…
Sore itu Bunda menyuruhku bersiap-siap mengemas baju dan semua kebutuhan untuk di Pondok. Ya, besok pagi Aku akan diberangkatkan ke Pondok di daerah Cianjur, kata Ayah, Aku tidak boleh berlama-lama di rumah. Tapi harus secepat inikah ??!!
Bagaimanapun Aku harus mau…
Di dapur, Bunda sedang menyiapkan makanan untuk dibawa besok, Aku tertunduk lesu saat harus memasukkan satu persatu baju-bajuku ke dalam tas, sesekali air mataku menetes.
            “Sudah jangan bengong begitu,”ucap Bunda tiba-tiba…
Aku menoleh tanpa gairah…
            “Bunda dalam beberapa waktu Aku akan jauh darimu,”kataku dalam hati, tiba-tiba terus saja air mataku mengalir deras, Bunda tersenyum sambil menhapus air mataku,”nanti setelah pulang dari pondok, kamu bisa ajari Bundamu ini mengaji, soal mengaji Bunda kan bodoh,”canda Bunda.
            “Ah, Bunda,”sambil mencoba tersenyum.
Bunda memegang tanganku, kulihat matanya berkaca-kaca…
            “Bunda, Bunda sedih nggak, bakal pisah jauh sama Aku?”
Bunda menatapku, lalu memelukku…
Inilah saat terindah yang aku rasakan bersama Bunda, sore itu pelukannya terasa sangat hangat dan mendamaikan hatiku yang sedang galau dan luluhlantak.Air mata ini terus mengalir, jujur, Aku enggan dan berat berpisah dengan Bunda dan adik-adikku juga keluargaku. Tapi, harus aku ingat, ini hanya sementara, mau tidak mau, Aku harus mau…
***
Hari esok tiba lebih cepat dari biasanya atau mungkin itu hanya perasaanku saja.Pagi-pagi sekitar pukul 04.30, Aku bangun, kubantu Bunda untuk menyiapkan semuanya.
            “Fira, sekarang sudah jam 06.00, sebentar lagi kita berangkat.Sekarang kamu ganti baju sana, bajunya sudah Bunda siapkan di kamar kamu”kata Bunda.
Akupun berjalan kea rah kamar, Aku tidak segera mengganti pakaianku, Aku duduk di atas kasur sambil menatap baju yang disiapkan Bunda, rok berwarna hitam, baju nlengan panjang berwarna putih dan kerudung tsunami panjang.
            “Fira, cepat pakai jangan dilihatin terus dong”,ucap Bunda.
            “Iya, Bun,”ucapku sambil melepas baju yang kupakai dan menggantinya dengan pakaian yang Bunda siapkan. Lamaaa…Aku berdiri di depan cermin. Aku geli juga melihat gambar bayangan di cermin itu.Aku yang terkenal tomboy, cuek, dan ceroboh ketika di sekolah karena saking cueknya dalam berpenampilan. Sekarang mengenakan busana muslim yang siapapun melihatnya akan mengatakan manis.
Aku tertawa sendiri…
            “Cantik,”puji Bunda dan adik-adikku.
Aku menoleh dan tersenyum…
            “Bukan cantik, tapi aneh, Bun,”ucapku.
Sekitar pukul 07.30, kami akan berangkat, Aku belum mau masuk ke dalam mobil, Ayah menghampiriku...
            “Safira, Ayah nggak bisa nganterin kamu, disana Ayah pesan jangan nakal, ya !pulang-pulang bawa ilmu yang bermanfaat,”ucap Ayah sambil membelai kepalaku, Aku menangis…sungguh  baru kali ini tangan ayah menyentuh lembut kepalaku. Bunda mengajakku masuk ke dalam mobil, disana sudah ada Ibu tiriku (Isteri pertama Ayah), kakak juga adik tiriku, setelah memeriksa semua dan semua selesai kamipun berangkat. Mobil melaju dengan cepat, Aku sama sekali tidak bisa tersenyum. Sepanjang perjalanan beribu pertanyaan menghantui pikirank.”Aku ingin sekolah bukan mondok.”kataku dalam hati
Akhirnya kami sampai di tempat tujuan, Cianjur pedalaman yang saangaaatt…jauh kemana-mana.Aku berjalan mengikuti orang tuaku, tiba di sebuah rumah kami mengetuk pintu.
            “Assalamualaikum.”
Kuperhatikan sekelilingnya, pagar-pagar besar dan juga tembok mengelilingi seluruh pondok pesantren itu. Sebuah gembok tergantung di pagarnya…
Pintu rumah itu terbuka, kamipun masuk setelah beberapa saat menunggu, seorang Ibu-ibu berumur kira-kira setengah baya menghampiri kami, kamipun menyalaminya.Ibu tiriku atau yang biasa Aku panggil “Umi” memperkenalkan Aku kepada Ibu-ibu tadi.Ternyata ibu-ibu itu adalah Ibu Kepala di pondok itu atau santri-santrinya biasa memanggilnya “Bibi”.
Setelah berbicara panjang lebar, bla…bla…bla…ini itu, akhirnya Aku diantar seorang santri untuk membawa barang-barangku ke kamar santri atau di Pondok Pesantren biasa disebut “Kobong”. Begitu Aku memasuki kamar yang akan Aku tempati, kulihat para teteh-teteh sedang menhafal kita, entah apa kitab yang dipegangnya, aku belum tahu. Aku dipersilahkan duduk, mereka cukup ramah.Setelah berkenalan dan berbincang-bincang sebentar, Aku keluar kembali menemui Bundaku.
            Setelah semua selesai, kini saatnya keluargaku meninggalkan Aku sendiri disini.Sedih, sangat Aku rasakan.Satu persatu keluargaku memelukku, air mataku mengalir saat mereka pamit dan menghilang dari pandanganku.
            Aku kembali ke kamarku tepatnya ke Kobong Bogor. Ya, sesuai namanya kamar itu khusus untuk orang Bogor, di samping kanan kobong bogor ada Kobong Sukabumi, di samping kirinya Kobong Garut, di depannya Kobong Cianjur, dan tengah Cipanas. Diruangan atas ada mushola tempat shalat berjamaah, disekelilingnya rumah guru-guru yang mengajar mengaji.
            “Teh, kalau mau shalat dzuhur ambil wudhunya dimana, ya?” tanyaku pada seseorang, lalu seseorang itupun mengantarkan Aku ke tempat wudhu. Setelah itu,
Aku shalat dzuhur.
***
Bersambung...

AYAH, DIMANA HATIMU !! (2)


Sambungan dari (cerita Ayah!Dimana Hatimu???!!)……
Aku dan Bunda memang tidak terlalu dekat. Entah kenapa hubungan Aku dan Bunda sangat renggang. Mungkin karena Aku anak yang paling sering melawan jika diberi nasihat atau mungkin karena sejak kecil Aku lebih sering menghabiskan waktu bersama nenek, yang biasa Aku panggil dengan sebutan “Mama” tapi bukan berarti Aku tidak menyayangi Bunda, Bunda tetap Bunda yang sangat Aku cintai.
            “Fira”’ terdengar suara Ayah memanggilku.
            Aku tidak peduli. Aku masih sangat marah kepada Ayah. Lalu, Ayah masuk ke kamarku, ada sedikit harapan dihatiku, semoga Ayah akan mengubah keputusannya, tapi…
            “Fira, Ayah tidak suka kamu membangkang keputusan Ayah, kamu harus tahu kakak-kakak tirimu dulu saat Ayah suruh berhenti sekolah di kelas 4 dan masuk pesantren, mereka tidak pernah sedikitpun melawan seperti kamu ini”.
            “Itu kan kakak-kakak Fira, Yah. Bukan Fira, Fira beda dari mereka”ucapan yang terpaksa Aku pendam dalam hati karena Aku tidak berani mengatakannya, akhirnya terlontarkan juga.
Ayah yang terkenal fanatik ternyata lebih fanatik dari yang Aku kira, bila harus Aku katakan,”pemikirannya masih pemikiran orang awam.” Aku terdiam menunduk, Ayah masih berdiri di depanku.
            “Sekolah itu HARAM,”ucap Ayah dengan lebih menekankan kata ‘haram’
Deg…Aku tersentak, reflex kepalaku mendongak, ku tatap wajah Ayah dan entah darimana keberanian itu datang. Aku berkata,”Haram?!!Ayah bilang Haram, Haram apanya ? apa ada ayat Al-Qur’an atau Hadist yang mengatakan menuntut ilmu itu haram, kalau memang ada kasih tahu Fira, Yah. Surat apa? ayat berapa? hadist apa? Supaya Fira tahu,”ucap Fira lantang.
Ayah melotot, dia tidak menyangka, Aku berani mengatakan semua itu.
            “Cuh,”Ayah meludah tepat mengenai kepalaku. Tangisku semakin menjadi, saaakiiit rasanya…
            “Dasar anak durhaka, selalu membangkang orang tua, merasa hebat kamu?”maki Ayah dengan kasarnya.
Aku masih tidak bisa menerima ucapan Ayah.
            “Yah, Fira bukan merasa hebat, tapi apa salah kalau Fira menuntut hak Fira sebagai anak, Fira nggak mau jadi orang bodoh, Yah. Ayah bilang sekolah itu haram, bukannya mencari ilmu itu wajib, bahkan sampai kita masuk ke liang lahat.
Ayah sudah melayangkan tangannya hendak memukulku, tapi tiba-tiba Bunda datang dan menghalangi niat Ayah,”Yah, jangan”kata Bunda seraya menarik Ayah keluar dari kamarku.
Itulah Ayah, cepat marah, kasar, dan selalu tidak mau menerima pendapat orang lain tapi Aku tahu, dibalik semua itu, Ayah adalah orang yang baik, dermawan, dan lembut walaupun kelembutan hatinya tidak pernah diperlihatkan kepada kami, anak-anaknya.
***
Bersambung……