Penggalan terakhir (cerbung Ayah, Dimana Hatimu !!)
Tidak terasa hari berganti minggu,
minggu berganti bulan, bulan berganti tahun.Dan sudah 1 tahun Aku belajar di
Pondok Pesantren ini.
Siang ini, tidak seperti biasanya
Aku sangat-sangat merindukan Bunda, Aku sangat ingin bertemu
dengannya.Sebenarnya Aku memang sering meminta pulang tapi Bibi tidak pernah
memberikan izin.Namun kali ini Aku benar-benar ingin bertemu Bunda. Entah apa
yang sedang terjadi disana dengan Bunda. Perasaanku gelisah, bayang-bayang
Bunda tiba-tiba saja memenuhi pikiranku.Tanpa Aku sadari, Bibi sudah ada di
sampingku.Dia mengajakku ke rumahnya.Dia bilang ada kakak tiriku yang
menjemputku.Bukan main senangnya. Namun ketika di perjalanan pulang kakak
tiriku tidak bersuara sama sekali. “Aneh, tidak seperti biasanya, ini bukan
sifat dia,”batinku dalam hati. Lalu, Aku tanya mengapa dia menejmputku. Dia
hanya menjawab,”kamu akan tahu setelah sampai rumah.”tentu saja jawaban itu
sangat membuatku penasaran dan bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya sedang
disembunyikannya, apa yang sebenarnya sedang terjadi di rumahku.
1,5 jam kemudian mobil yang Aku
tumpangi akhirnya sampai di gerbang depan rumah dan DEG…betapa kagetnya Aku
ketika melihat bendera kuning berkibar di gerbang depan rumahku. Pikiranku
sudah kacau. Aku berharap, apa yang Aku pikirkan ini tidak benar. Aku turun
perlahan, kakak tiriku memapahku masuk ke dalam.Aku melihat adik-adikku
menangis histeris.Aku mencoba melihat siapa yang mereka tangisi. Ternyata
mereka menangisi sesosok tubuh yang sudah membujur kaku dengan dibalut kain
kafan , yang tak lain sosok itu adalah Bunda. Aku tak kuasa melihatnya, dunia
seakan hancur, seketika tubuhku lemas, air mataku semakin deras mengalir dan
tanpa sadar Aku mengguncang-guncang tubuh Bunda yang kini sudah tidak bisa
tersenyum dan memeluk tubuhku.
“Bun, bangun Bun, ini
Fira!!!Sekarang Fira sudah pandai mengaji.Bunda bilang kalau Fira sudah pandai
mengaji, Bunda ingin Fira ajari.Nah, sekarang Fira sudah pandai mengaji,
Bun.Bundaaaa…banguuunn.”teriakku histeris disela isak tangisku yang semakin
menjadi-jadi.
Kupeluk
ketiga adikku.Kucoba menenangkan si Bungsu yang terus menangis memanggil
bunda.Nenek memeluk kami berempat.Ayahpun mencoba menenangkan kami.
“sudah-sudah, jangan menangis lagi,
kasihan Bunda kalian jika kalian menangis terus.”ucap Ayah
“yang sabar dan tabah cucu-cucuku,
ikhlaskan Bunda,”sahut nenek
“tapi ma, kenapa secepat ini Allah
mengambil bunda. Emang bunda sakit apa, ma?”tanyaku mencoba mengikhlaskan semua
kenyataan pahit ini.
“mungkin ini sudah takdir sayang,
bundamu itu ditemukan sudah dalam keadaan mengambang di kolam milik
ayahmu.”jawab nenek sambil memeluk kami lebih erat.
“ayo sekarang kita ke pemakaman
untuk mengantarkan bunda kalian ke peristirahatan terakhirnya.”kata nenek lagi
Setelah proses pemakaman bunda
selesai, dengan langkah yang berat aku dan ketiga adikku harus pulang
meninggalkan bunda sendiri disana. Di dalam tanah yang begitu pengap, sempit,
dan gelap. Namun apalah daya, aku harus tetap mengikhlaskan dan
meninggalkannya, mau tidak mau….
Setelah
bunda meninggal aku dan ketiga adikku tinggal di rumah ibu tiri. Namun itu
tidak bertahan lama karena ibu tiriku tidak suka dengan kehadiran kami berempat
dan atas bujukannya, entah apa yang dibicarakannya, ayah seperti membenci aku
dan adikk-adikku dan akhirnya dia menyuruh kepada orang tua bunda yaitu kakek
dan nenek untuk membawa kami berempat pergi dari rumahnya. Dan ayah berpesan
agar jangan membawa kami ke hadapannya lagi.
Setelah
mendengar penuturan ayah tadi, aku begitu terpukul.Dan saat itu juga aku
sangat-sangat membenci ayah.Aku dan adik-adikku pun akhirnya hanya bisa pasrah
melihat ayah yang selama ini kami hormati membuang kami begitu saja. Entah apa
kesalahan yang pernah kami perbuat hingga dia setega itu. Sejak saat itu aku
dan ketiga adikku tinggal bersama kakek dan nenek. Dan sejak saat itu pula, aku dan
ketiga adikku bersumpah akan membuktikan kepada ayah bahwa kami bisa berhasil
dan sukses tanpa dia, dengan cara kami sendiri.
****
selesai... :)
No comments:
Post a Comment