Wednesday, May 22, 2013

AYAH, DIMANA HATIMU !! (4)


   Penggalan terakhir (cerbung Ayah, Dimana Hatimu !!)       
           Tidak terasa hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun.Dan sudah 1 tahun Aku belajar di Pondok Pesantren ini.
            Siang ini, tidak seperti biasanya Aku sangat-sangat merindukan Bunda, Aku sangat ingin bertemu dengannya.Sebenarnya Aku memang sering meminta pulang tapi Bibi tidak pernah memberikan izin.Namun kali ini Aku benar-benar ingin bertemu Bunda. Entah apa yang sedang terjadi disana dengan Bunda. Perasaanku gelisah, bayang-bayang Bunda tiba-tiba saja memenuhi pikiranku.Tanpa Aku sadari, Bibi sudah ada di sampingku.Dia mengajakku ke rumahnya.Dia bilang ada kakak tiriku yang menjemputku.Bukan main senangnya. Namun ketika di perjalanan pulang kakak tiriku tidak bersuara sama sekali. “Aneh, tidak seperti biasanya, ini bukan sifat dia,”batinku dalam hati. Lalu, Aku tanya mengapa dia menejmputku. Dia hanya menjawab,”kamu akan tahu setelah sampai rumah.”tentu saja jawaban itu sangat membuatku penasaran dan bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya sedang disembunyikannya, apa yang sebenarnya sedang terjadi di rumahku.
            1,5 jam kemudian mobil yang Aku tumpangi akhirnya sampai di gerbang depan rumah dan DEG…betapa kagetnya Aku ketika melihat bendera kuning berkibar di gerbang depan rumahku. Pikiranku sudah kacau. Aku berharap, apa yang Aku pikirkan ini tidak benar. Aku turun perlahan, kakak tiriku memapahku masuk ke dalam.Aku melihat adik-adikku menangis histeris.Aku mencoba melihat siapa yang mereka tangisi. Ternyata mereka menangisi sesosok tubuh yang sudah membujur kaku dengan dibalut kain kafan , yang tak lain sosok itu adalah Bunda. Aku tak kuasa melihatnya, dunia seakan hancur, seketika tubuhku lemas, air mataku semakin deras mengalir dan tanpa sadar Aku mengguncang-guncang tubuh Bunda yang kini sudah tidak bisa tersenyum dan memeluk tubuhku.
            “Bun, bangun Bun, ini Fira!!!Sekarang Fira sudah pandai mengaji.Bunda bilang kalau Fira sudah pandai mengaji, Bunda ingin Fira ajari.Nah, sekarang Fira sudah pandai mengaji, Bun.Bundaaaa…banguuunn.”teriakku histeris disela isak tangisku yang semakin menjadi-jadi.
Kupeluk ketiga adikku.Kucoba menenangkan si Bungsu yang terus menangis memanggil bunda.Nenek memeluk kami berempat.Ayahpun mencoba menenangkan kami.
            “sudah-sudah, jangan menangis lagi, kasihan Bunda kalian jika kalian menangis terus.”ucap Ayah
            “yang sabar dan tabah cucu-cucuku, ikhlaskan Bunda,”sahut nenek
            “tapi ma, kenapa secepat ini Allah mengambil bunda. Emang bunda sakit apa, ma?”tanyaku mencoba mengikhlaskan semua kenyataan pahit ini.
            “mungkin ini sudah takdir sayang, bundamu itu ditemukan sudah dalam keadaan mengambang di kolam milik ayahmu.”jawab nenek sambil memeluk kami lebih erat.
        “ayo sekarang kita ke pemakaman untuk mengantarkan bunda kalian ke peristirahatan terakhirnya.”kata nenek lagi
            Setelah proses pemakaman bunda selesai, dengan langkah yang berat aku dan ketiga adikku harus pulang meninggalkan bunda sendiri disana. Di dalam tanah yang begitu pengap, sempit, dan gelap. Namun apalah daya, aku harus tetap mengikhlaskan dan meninggalkannya, mau tidak mau….
Setelah bunda meninggal aku dan ketiga adikku tinggal di rumah ibu tiri. Namun itu tidak bertahan lama karena ibu tiriku tidak suka dengan kehadiran kami berempat dan atas bujukannya, entah apa yang dibicarakannya, ayah seperti membenci aku dan adikk-adikku dan akhirnya dia menyuruh kepada orang tua bunda yaitu kakek dan nenek untuk membawa kami berempat pergi dari rumahnya. Dan ayah berpesan agar jangan membawa kami ke hadapannya lagi.
Setelah mendengar penuturan ayah tadi, aku begitu terpukul.Dan saat itu juga aku sangat-sangat membenci ayah.Aku dan adik-adikku pun akhirnya hanya bisa pasrah melihat ayah yang selama ini kami hormati membuang kami begitu saja. Entah apa kesalahan yang pernah kami perbuat hingga dia setega itu. Sejak saat itu aku dan ketiga adikku tinggal bersama kakek dan nenek. Dan sejak saat itu pula, aku dan ketiga adikku bersumpah akan membuktikan kepada ayah bahwa kami bisa berhasil dan sukses tanpa dia, dengan cara kami sendiri.

****
selesai... :)

No comments:

Post a Comment