Wednesday, June 27, 2012

PENGALAMAN TERPAHIT DAN SEBUAH PENYESALAN


Peristiwa itu terjadi 6 Tahun silam, tepatnya Tahun 2006. Ketika itu Aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Ini merupakan sebuah pengalaman paling pahit sekaligus sebuah penyesalan yang Aku tidak akan bisa menebusnya sampai kapanpun. Itu bermula, ketika Ayahku akan menjual rumah yang ditinggali oleh Aku, Ibuku, Adik dan Kakakku. Entah untuk apa Ayahku menjual rumah yang Kami tinggali, yang Aku tahu saat itu, Ayahku berjanji akan membelikan lagi Kami rumah baru. Namun, ternyata janji itu hanyalah janji. Setelah rumah itu terjual, Ayahku seakan-akan melupakan janji itu. Ayahku malah menyuruh Kami menempati rumah kosong yang berada di Lahan milik Ayahku. Rumah itu terletak tidak jauh dari Rumah Isteri Tua Ayahku. Rumah itu sangat tidak sepadan dengan Rumah Isteri Tua Ayahku . Rumah itu kecil, kotor, disekelilingnya ditumbuhi oleh pohon bambu yang tinggi-tinggi , pokoknya tidak layak huni. Ibuku tidak mau tinggal di tempat itu . Dia memilih tinggal di Rumah Isteri Muda Ayahku karena kebetulan ada ruangan kosong cukup besar yang tidak terpakai. Saat itu, Kakakku yang paling pertama sudah lulus sekolah sementara kedua Adikku pindah sekolah tetapi Aku tidak mau pindah jadi Aku putuskan untuk tinggal bersama Kakekku. Ayahku marah besar ketika tahu Ibuku tinggal bersama Isteri Mudanya. Mereka bertengkar hebat. Aku menyaksikan pertengkaran itu, Aku yang belum mengerti hanya bisa diam dan menangis, tanpa tahu harus berbuat apa. Ayahku mengancam, dia tidak akan memberikan tempat tinggal dan mengusirnya jika Ibuku tidak tinggal di tempat yang Ayahku suruh. Akhirnya mau tidak mau Ibuku menurutinya. Ketika pindah ke Rumah itu Aku sudah tinggal bersama Kakek dan Nenekku. Selanjutnya, Aku tidak pernah tahu apa yang terjadi dengan Ibu, Kakak, dan kedua Adikku. Selama Aku tinggal bersama Kakek dan Nenekku, Aku tidak pernah mendatangi Rumah Ibuku, itulah salah satu kesalahanku. Jikapun Ibuku mengirimi uang ,Aku tidak pernah bertemu dia karena selalu sedang berada di Sekolah. Setahun kemudian Aku lulus dari Sekolah Dasar. Pada akhir bulan Mei, Ibu menjemputku untuk tinggal bersamanya. Saat itu Aku ingin melanjutkan sekolah, namun karena kefanatikan Ayahku dia melarangnya bagi dia sekolah itu haram. Ibuku menyuruh untuk menuruti ayahku. Aku menurutinya meski berat hati dan sangat kecewa. Ketika Aku tinggal bersama Ibuku, Aku bisa melihat bahwa Ibuku sangat tersiksa dan tertekan tinggal di tempat seperti itu, namun di depan Kami anak-anaknya ia selalu tersenyum. Ibuku sangat memanjakanku karena mungkin Aku baru tinggal bersamanya, terlihat bagaimana rasa sayangnya yang begitu besar. Itu menjadikanku anak yang pemalas. Aku tidak pernah mau membantu Ibuku, jika dia menyuruhku untuk membantunya, Aku selalu marah-marah dan bukan Aku saja yang begitu, Kakak dan Adik perempuanku pun sama. Yang Aku, Kakakku dan Adikku lakukan setiap hari hanyalah bermain dan bermain. Tetapi Ibuku membiarkannya.
Tidak terasa sudah Dua Bulan Aku tinggal bersama Ibuku dan akan memasuki Bulan ketiga. Selama Aku tinggal bersama Ibuku, Ayahku sangat jarang pulang ke Rumah, ia seperti tidak memperdulikan Kami. Saat itu Bulan Agustus. Semua berjalan seperti biasa. Namun, pada minggu ke empat Ibuku mulai bertingkah aneh. Meski anak-anaknya tidak ada yang menyadarinya tapi keanehan itu sangat terasa. Pada suatu hari , tiba-tiba Ibu bilang kepada Kami dengan pandangan mata mengarah ke TPU(Tempat Pemakaman Umum) yang berada di seberang Rumah Kami. Ia bilang “kalau Ibu meninggal kalian jangan nangis, ya” namun Kami anak-anaknya hanya menanggapinya dengan biasa. Keanehan selanjutnya, Ibuku membersihkan dan merapikan seluruh ruangan di Rumah itu bahkan diapun membersihkan rumput-rumput di sekitar rumah itu sampai semua bersih. Dia juga meminta maaf kepada Ayahku dan semua Isteri-isteri Ayahku. Masih teringat, Ibuku berjanji akan pergi berbelanja bersama Kami untuk persiapan bulan puasa karena akan menghadapi Bulan Puasa. Keanehan terus berlanjut, Ibuku memberikan tempat tidur yang biasa dia gunakan untuk tidur bersama Ayahku. Ketika kami bertanya, nanti dia akan tidur dimana dia hanya menjawab “bagaimana nanti, Ibu tidak akan tidur disini lagi”. Dan malam sebelum kejadian naas itu terjadi, tidak seperti biasanya ia terlihat murung dengan tatapan kosong memandangi Kami berempat. Keesokannya hal itu terjadi, hari itu KAMIS 30 AGUSTUS 2006 adalah hari yang tidak akan terlupakan. Kejadian pahit itu bermula ketika Ibuku hendak menunaikan shalat shubuh dan ia akan mandi dengan diantar adik laki-lakiku karena dia dibangunkan oleh Ibuku. Karena kamar mandi di Rumah Kami rusak jadi terpaksa Kami mandi di Mushola Ayahku dekat Pabriknya. Saat Adikku selesai mandi, tidak seperti biasanya dia marah-marah karena harus menunggu Ibuku. Akhirnya Ibuku menyuruhnya pulang, diapun pulang. Namun, sampai pagi Ibuku tidak juga kunjung pulang ke Rumah, terpaksa kedua Adikku menjemputnya. Tapi, Ibuku tidak ada di tempat itu. Mereka pulang lagi. Namun, ketika hampir sampai rumah, dari atas Adik bungsuku melihat sesuatu menyembul dari dalam kolam, karena penasaran akhirnya Mereka kembali untuk melihat sesuatu tersebut, dan ketika semakin dekat Mereka berteriak histeris dan menangis, ternyata itu adalah Ibuku. Dia sudah membujur kaku, tak bernyawa dengan memakai pakaian shalatnya mengambang di atas air. Ketika Aku menyusul dengan Kakakku, Aku tak kuasa melihatnya. Aku marah, Aku menangis histeris, berteriak, namun Aku tidak tahu harus kepada siapa Aku marah. Aku marah kepada diriku sendiri karena tidak berada disamping Ibuku disaat terakhirnya. Aku sangat menyesal karena tidak pernah mau membantu Ibuku, selalu marah-marah kepada Ibuku dan yang membuatku sangat-sangat menyesal adalah sangat singkatnya Aku merasakan tinggal bersama Ibuku, hanya 2,5 bulan. Aku pulang kepada Ibuku tetapi dia malah pergi untuk slama-lamanya. Andai waktu bisa diulang. Aku akan minta pada ALLAH “jangan dulu Kau ambil nyawa Ibuku sebelum Aku bisa membahagiakannya”. Aku ingin memperbaiki semuanya. Namun, itu semua hanya tinggal angan-angan dan yang kini ada hanya tinggal sebuah penyesalan yang amat sangat mendalam. Itu merupakan sebuah peristiwa terpahit dalam sejarah hidupku. Bagi kalian yang masih memiliki kedua orang tua janganlah kalian sia-siakan orang tuamu karena ditinggal oleh orang yang sangat berarti dan berharga dalam hidup kita itu sangat sakit rasanya.
***
Oleh : Siti Kulsum Suryana Putri (IX.2) MTs.Al-Istiqomah
(diambil dari kisah nyata)