Peristiwa itu terjadi 6
Tahun silam, tepatnya Tahun 2006. Ketika itu Aku masih duduk di
bangku Sekolah Dasar. Ini merupakan sebuah pengalaman paling pahit
sekaligus sebuah penyesalan yang Aku tidak akan bisa menebusnya
sampai kapanpun. Itu bermula, ketika Ayahku akan menjual rumah yang
ditinggali oleh Aku, Ibuku, Adik dan Kakakku. Entah untuk apa Ayahku
menjual rumah yang Kami tinggali, yang Aku tahu saat itu, Ayahku
berjanji akan membelikan lagi Kami rumah baru. Namun, ternyata janji
itu hanyalah janji. Setelah rumah itu terjual, Ayahku seakan-akan
melupakan janji itu. Ayahku malah menyuruh Kami menempati rumah
kosong yang berada di Lahan milik Ayahku. Rumah itu terletak tidak
jauh dari Rumah Isteri Tua Ayahku. Rumah itu sangat tidak sepadan
dengan Rumah Isteri Tua Ayahku . Rumah itu kecil, kotor,
disekelilingnya ditumbuhi oleh pohon bambu yang tinggi-tinggi ,
pokoknya tidak layak huni. Ibuku tidak mau tinggal di tempat itu .
Dia memilih tinggal di Rumah Isteri Muda Ayahku karena kebetulan ada
ruangan kosong cukup besar yang tidak terpakai. Saat itu, Kakakku
yang paling pertama sudah lulus sekolah sementara kedua Adikku pindah
sekolah tetapi Aku tidak mau pindah jadi Aku putuskan untuk tinggal
bersama Kakekku. Ayahku marah besar ketika tahu Ibuku tinggal bersama
Isteri Mudanya. Mereka bertengkar hebat. Aku menyaksikan pertengkaran
itu, Aku yang belum mengerti hanya bisa diam dan menangis, tanpa tahu
harus berbuat apa. Ayahku mengancam, dia tidak akan memberikan tempat
tinggal dan mengusirnya jika Ibuku tidak tinggal di tempat yang
Ayahku suruh. Akhirnya mau tidak mau Ibuku menurutinya. Ketika pindah
ke Rumah itu Aku sudah tinggal bersama Kakek dan Nenekku.
Selanjutnya, Aku tidak pernah tahu apa yang terjadi dengan Ibu,
Kakak, dan kedua Adikku. Selama Aku tinggal bersama Kakek dan
Nenekku, Aku tidak pernah mendatangi Rumah Ibuku, itulah salah satu
kesalahanku. Jikapun Ibuku mengirimi uang ,Aku tidak pernah bertemu
dia karena selalu sedang berada di Sekolah. Setahun kemudian Aku
lulus dari Sekolah Dasar. Pada akhir bulan Mei, Ibu menjemputku untuk
tinggal bersamanya. Saat itu Aku ingin melanjutkan sekolah, namun
karena kefanatikan Ayahku dia melarangnya bagi dia sekolah itu haram.
Ibuku menyuruh untuk menuruti ayahku. Aku menurutinya meski berat
hati dan sangat kecewa. Ketika Aku tinggal bersama Ibuku, Aku bisa
melihat bahwa Ibuku sangat tersiksa dan tertekan tinggal di tempat
seperti itu, namun di depan Kami anak-anaknya ia selalu tersenyum.
Ibuku sangat memanjakanku karena mungkin Aku baru tinggal bersamanya,
terlihat bagaimana rasa sayangnya yang begitu besar. Itu menjadikanku
anak yang pemalas. Aku tidak pernah mau membantu Ibuku, jika dia
menyuruhku untuk membantunya, Aku selalu marah-marah dan bukan Aku
saja yang begitu, Kakak dan Adik perempuanku pun sama. Yang Aku,
Kakakku dan Adikku lakukan setiap hari hanyalah bermain dan bermain.
Tetapi Ibuku membiarkannya.
Tidak terasa sudah Dua
Bulan Aku tinggal bersama Ibuku dan akan memasuki Bulan ketiga.
Selama Aku tinggal bersama Ibuku, Ayahku sangat jarang pulang ke
Rumah, ia seperti tidak memperdulikan Kami. Saat itu Bulan Agustus.
Semua berjalan seperti biasa. Namun, pada minggu ke empat Ibuku mulai
bertingkah aneh. Meski anak-anaknya tidak ada yang menyadarinya tapi
keanehan itu sangat terasa. Pada suatu hari , tiba-tiba Ibu bilang
kepada Kami dengan pandangan mata mengarah ke TPU(Tempat Pemakaman
Umum) yang berada di seberang Rumah Kami. Ia bilang “kalau Ibu
meninggal kalian jangan nangis, ya” namun Kami anak-anaknya hanya
menanggapinya dengan biasa. Keanehan selanjutnya, Ibuku membersihkan
dan merapikan seluruh ruangan di Rumah itu bahkan diapun membersihkan
rumput-rumput di sekitar rumah itu sampai semua bersih. Dia juga
meminta maaf kepada Ayahku dan semua Isteri-isteri Ayahku. Masih
teringat, Ibuku berjanji akan pergi berbelanja bersama Kami untuk
persiapan bulan puasa karena akan menghadapi Bulan Puasa. Keanehan
terus berlanjut, Ibuku memberikan tempat tidur yang biasa dia gunakan
untuk tidur bersama Ayahku. Ketika kami bertanya, nanti dia akan
tidur dimana dia hanya menjawab “bagaimana nanti, Ibu tidak akan
tidur disini lagi”. Dan malam sebelum kejadian naas itu terjadi,
tidak seperti biasanya ia terlihat murung dengan tatapan kosong
memandangi Kami berempat. Keesokannya hal itu terjadi, hari itu KAMIS
30 AGUSTUS 2006 adalah hari yang tidak akan terlupakan. Kejadian
pahit itu bermula ketika Ibuku hendak menunaikan shalat shubuh dan ia
akan mandi dengan diantar adik laki-lakiku karena dia dibangunkan
oleh Ibuku. Karena kamar mandi di Rumah Kami rusak jadi terpaksa Kami
mandi di Mushola Ayahku dekat Pabriknya. Saat Adikku selesai mandi,
tidak seperti biasanya dia marah-marah karena harus menunggu Ibuku.
Akhirnya Ibuku menyuruhnya pulang, diapun pulang. Namun, sampai pagi
Ibuku tidak juga kunjung pulang ke Rumah, terpaksa kedua Adikku
menjemputnya. Tapi, Ibuku tidak ada di tempat itu. Mereka pulang
lagi. Namun, ketika hampir sampai rumah, dari atas Adik bungsuku
melihat sesuatu menyembul dari dalam kolam, karena penasaran akhirnya
Mereka kembali untuk melihat sesuatu tersebut, dan ketika semakin
dekat Mereka berteriak histeris dan menangis, ternyata itu adalah
Ibuku. Dia sudah membujur kaku, tak bernyawa dengan memakai pakaian
shalatnya mengambang di atas air. Ketika Aku menyusul dengan Kakakku,
Aku tak kuasa melihatnya. Aku marah, Aku menangis histeris,
berteriak, namun Aku tidak tahu harus kepada siapa Aku marah. Aku
marah kepada diriku sendiri karena tidak berada disamping Ibuku
disaat terakhirnya. Aku sangat menyesal karena tidak pernah mau
membantu Ibuku, selalu marah-marah kepada Ibuku dan yang membuatku
sangat-sangat menyesal adalah sangat singkatnya Aku merasakan tinggal
bersama Ibuku, hanya 2,5 bulan. Aku pulang kepada Ibuku tetapi dia
malah pergi untuk slama-lamanya. Andai waktu bisa diulang. Aku akan
minta pada ALLAH “jangan dulu Kau ambil nyawa Ibuku sebelum Aku
bisa membahagiakannya”. Aku ingin memperbaiki semuanya. Namun, itu
semua hanya tinggal angan-angan dan yang kini ada hanya tinggal
sebuah penyesalan yang amat sangat mendalam. Itu merupakan sebuah
peristiwa terpahit dalam sejarah hidupku. Bagi kalian yang masih
memiliki kedua orang tua janganlah kalian sia-siakan orang tuamu
karena ditinggal oleh orang yang sangat berarti dan berharga dalam
hidup kita itu sangat sakit rasanya.
***
Oleh : Siti
Kulsum Suryana Putri (IX.2) MTs.Al-Istiqomah
(diambil
dari kisah nyata)